NILAI-NILAI SOSIAL DALAM TRADISI PERKAWINAN ADAT DI DESA SUKADANA KECAMATAN BAYAN KABUPATEN LOMBOK UTARA

Authors

  • Marina Universitas Mataram
  • Bagdawansyah Alqadri Universitas Mataram
  • Muh Zubair Universitas Mataram

DOI:

https://doi.org/10.23969/jp.v11i03.61585

Keywords:

social values, traditional marriage, Sasak Bayan, ethnography, local wisdom

Abstract

This study aims to describe the process of traditional marriage and identify the social values embedded within it among the Sasak Bayan community of Sukadana Village, Bayan District, North Lombok Regency. A qualitative ethnographic approach was employed, with data obtained through participatory observation, semi-structured interviews with customary leaders and community members, and documentation, then analyzed following the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing, with credibility ensured through source and technique triangulation. The findings show that traditional marriage in Sukadana Village unfolds through six interrelated stages, namely memulang, mejati, nyelabar, ajikrama, mengkawin/merosok, and tampah wirang, each governed by customary norms emphasizing mutual consent, deliberation, and reconciliation. Analysis based on Notonegoro's classification of social values reveals that the tradition contains material values (the use of customary goods, expenditure, and communal consumption), vital values (mutual cooperation, the role of customary leaders, and customary regulation), and religious values (the practice of religious rituals and communal belief). These findings indicate that the memulang tradition, often misread as an act of elopement, is in fact a structured customary mechanism built on agreement, social responsibility, and communal solidarity, so that its preservation requires deliberate documentation and cross-generational transmission of local wisdom.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdussamad, H. Z., & SIK, M. S. (2021). Metode Penelitian Kuali-tatif. CV. Syakir Media Press.

Herimanto, & Winarno. (2010). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Moleong, L. J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pradana, A. G., & Wijaya, K. (2024). Simbolisme Makan Komunal Man-gan Bareng dalam Resolusi Kon-flik Perkawinan Adat Sasak. Mata-ram: Sanabil Publications.

Purwanto, G. H. (2022). Buku Ajar Hukum Adat: Memahami Hukum Adat dalam Sistem Hukum Indone-sia. Penerbit CV. Sarnu Untung.

Sugiyono. (2014). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Artikel in Press :

Antika, W. B. (2025). Analisis Nilai-Nilai Islamic Parenting Education dalam Perkawinan Adat Nobat di Lombok Utara (Studi Kasus di De-sa Anyar Kecamatan Bayan Kabu-paten Lombok Utara).

Lensi, E. (2025). Implementasi Nilai-Nilai Sosial Dalam Budaya Nun-dang Padi Di Desa Selali Kecama-tan Pino Raya Kabupaten Bengku-lu Selatan (Skripsi, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu).

Pratama, A. R. (2024). Konsep Perkawinan dan Pembentukan Keluarga Sakinah dalam Masyara-kat Adat Dayak Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus di Kelurahan Panarung, Kecamatan Pahandut, Kalimantan Tengah, Palangka Raya) (Disertasi, Universitas Islam Indonesia).

Wijayanto, W. (2024). Pelestarian Hukum Adat, Adat Istiadat Di Desa Embong Sido Perspektif Siyasah Dusturiyah (Studi Kasus Imple-mentasi Peraturan Daerah Kabu-paten Kepahiang Nomor 11 Tahun 2016 Tentang Pemberlakuan dan Penerapan Hukum Adat Rejang Kepahiang) (Disertasi, UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu).

Jurnal :

Al-Amin, M., & Ashar, A. (2019). Ana-lisis Tradisi Merariq Suku Sasak di Lombok Sebagai 'Urf Shahih. Jurnal Hukum Kemanusiaan, 11(2), 115–128.

Amrullah, H. (2018). Sistem Kawin Lari Komunal: Pemisahan Peran dan Keterlibatan Aktor Sosial da-lam Kebudayaan Sasak. Jurnal Antropologi Budaya, 6(1), 45–59.

Ansharah, I. I., & Mustofa, M. L. (2025). The Sacred-Profane Dia-lectic in Sasak Marriage Rituals: A Phenomenological Analysis of the Merariq Tradition in Lombok, West Nusa Tenggara. Jurnal Sosiologi dan Budaya, 6(2), 148–155.

Anwar, K. (2019). Strategi Komu-nikasi dan Efek Cooling Down Tokoh Adat dalam Tahap Nyelabar Perkawinan Sasak. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Hubungan Bu-daya, 14(3), 210–224.

Ardell, M., Riyanto, T., Pujilasti, S. H., Aurel, N., Kalandoro, A. A., & Oloan, R. (2024). Integrative Per-spectives of Social and Science Journal (IPSSJ). IPSSJ, 3(2774-700X), 2774–7018.

Arrahman, S., & Iqbal, M. (2024). Pe-nanaman Nilai Norma Sosial da-lam Menghadapi Westernisasi di Kehidupan Modern. Al-Balagh: Jurnal Komunikasi Islam, 7(2),1–12.

Bashori, M. A. (2018). Peran Pengempos Sebagai Instrumen Hukum Adat dan Saksi Moral da-lam Tradisi Merariq. Jurnal Pranata Sosial, 9(2), 134–148.

Bayo, R., Wijaya, A. U., & Hadi, F. (2023). Pengakuan Masyarakat Adat Dalam Peraturan Perundang-Undangan Di Indonesia. Jurnal Ilmu Hukum Wijaya Putra, 1(1), 1–11.

Christofer Satria, Anggrawan, A., & Gunalan, S. (2024). Representasi Visual Nyongkolan dalam Adat Merariq sebagai Ide dan Gagasan Penciptaan Karya Seni. Deskovi: Art and Design Journal, 7(2), 126–134.

Dewi, R., & Saputra, A. (2021). Sink-ronisasi Ritme Ritual Kebudayaan Sorong Serah dengan Administrasi Pencatatan Sipil di Kantor Urusan Agama (KUA). Jurnal Administrasi Publik, 13(1), 67–81.

Djenap, Z. P., Soesanto, E., & Maha-rani, N. (2025). Keunikan Suku di Indonesia dalam Mempersatukan Bangsa di Tengah Perbedaan Bu-daya. Journal of Creative Student Research, 3(1), 141–148.

Fairiza, N., & Widyatama, A. (2023). Otonomi Perempuan, Regulasi Waktu Malam, dan Peran Pem-bayun Sebagai Komunikator dalam Navigasi Tradisi Merariq. Jurnal Gender dan Kebudayaan, 18(2), 142–158.

Hadi, L., dkk. (2022). Fleksibilitas Awig-Awig: Dinamika Retorika dan Diplomasi Pembayun di Meja Pe-rundingan Perkawinan Sasak. Jurnal Hukum Adat Kontemporer, 5(3), 189–204.

Haqi, M. Z., & Hamdi, S. (2016). Transparansi Hukum Adat: Mekanisme Pelaporan Formal dan Koordinasi Kewilayahan dalam Tahapan Mejati. Jurnal Mediasi Publik, 7(1), 33–46.

Husni, M. (2019). Pembayun Sebagai Diplomat Kebudayaan: Kelenturan Negosiasi Uang Pisuka dalam Tradisi Sasak. Jurnal Retorika Bu-daya, 12(2), 95–109.

Irawan, B. (2018). Sorong Serah Aji Krame Sebagai Kodifikasi Hukum Perdata Adat dan Legitimasi Status Sosial Masyarakat Sasak. Jurnal Hukum Adat Perdata, 10(4), 312–326.

Lestari, P. (2021). Manajemen Waktu dan Hukum Adat: Studi Kasus Tahapan Merangkat di Lombok Utara. Jurnal Hukum Adat dan So-sial, 9(1), 40–52.

Lukman, H. (2014). Lini Masa Malam Hari dalam Tradisi Memulang: Kearifan Lokal Sebagai Sistem Pengaman Sosial. Jurnal Kajian Budaya Lokal, 3(1), 15–28.

Majdi, Z. (2025). Perkawinan Nobat Suku Sasak Desa Sukadana: An-tara Hukum Agama Dan Hukum Positif Global. Jurnal Inovasi Glob-al, 3(2), 383–392.

Maqbul Alghifari, L. M., Dahlan, D., Sumardi, L., & Yuliatin, Y. (2022). Tradisi Patus Masyarakat Suku Sasak. CIVICUS: Pendidikan-Penelitian-Pengabdian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 10(2), 6.

Mulyadi, E. (2018). Pengendalian Waktu (Time Control) Pemenuhan Beban Adat untuk Mencegah Floating Status Pengantin Per-empuan Sasak. Jurnal Hukum dan Perlindungan Perempuan, 15(1), 54–68.

Musial, A. (2020). Tata Krama Komu-nikasi Perwakilan (Representative) dan Simbolisme Lekoq Sangka pada Suku Sasak. Jurnal Sosiolin-guistik Indonesia, 8(2), 102–116.

Nurhidayat, N., Zubair, M., Sawaludin, S., & Yuliatin, Y. (2023). Tradisi "Rebo Bontong" dalam Membentuk Civic Culture Masyarakat Sasak Desa Pringgabaya Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Ilmiah Profesi Pen-didikan, 8(1b), 752–761.

Qusyairi, A., Yuliatin, Y., Fuzan, A., & Haslan, M. M. (2024). Pelaksanaan Hukum Adat Perkawinan di Desa Bayan. Jurnal Pendidikan Kewar-ganegaraan, 14(1), 75–77.

Rahman, A. (2022). Sanksi Adat dan Delik Pelanggaran Waktu dalam Perkawinan Memulang. Jurnal So-siologi dan Hukum Adat, 14(2), 60–75.

Ratna, S., & Syarif, M. (2021). Jarak Psikologis dalam Delegasi Nyela-bar: Strategi Meredam Konflik Ego Patriarki Antar-Keluarga. Jurnal Psikologi Sosial Kelompok, 19(3), 240–255.

Sri Hariati, dkk. (2022). Pemberi Le-gitimasi Kolektif dan Penguat Soli-daritas Sosial Melalui Perundingan Tokoh Adat. Jurnal Ilmu Sosial dan Kebudayaan, 16(2), 175-190.

Downloads

Published

2026-07-30